Home Awal Tahun Kurikulum Merdeka PGMI Refleksi Resolusi Awal 2026: PGMI Memasuki Babak Lima Tahun Kurikulum Merdeka

Resolusi Awal 2026: PGMI Memasuki Babak Lima Tahun Kurikulum Merdeka


Memasuki Januari 2026, kami di PGMI IAI PERSIS Garut menyadari bahwa tahun ini menjadi tonggak yang penting: lima tahun sudah madrasah di Indonesia hidup berdampingan dengan Kurikulum Merdeka. Lima tahun adalah masa yang cukup untuk menilai apakah sebuah kebijakan kurikulum benar-benar mengakar, atau sekadar menjadi rutinitas administratif.

Dari pengamatan kami di banyak MI mitra di Garut, jawabannya berada di tengah—ada yang sudah benar-benar internalize, ada yang masih superficial. Tetapi yang menggembirakan, hampir tidak ada lagi guru MI yang merasa asing dengan kosa kata seperti CP, TP, ATP, P5-PPRA. Itu sudah menjadi bahasa harian.

Resolusi PGMI tahun 2026 berfokus pada beberapa hal yang ingin kami capai dengan sungguh-sungguh.

Pertama, internasionalisasi prodi. Selama empat tahun terakhir, kami fokus mengonsolidasikan kapasitas internal—mengakreditasi prodi, mendongkrak riset dosen, mengembangkan jejaring MI mitra. Tahun ini, kami ingin membuka pintu ke jejaring internasional, melalui kerja sama dengan kampus-kampus Islam di Asia Tenggara, publikasi di jurnal internasional, atau program pertukaran mahasiswa.

Kedua, integrasi yang lebih dalam antara tradisi PERSIS dan paradigma pendidikan kontemporer. Sebagai prodi PGMI di lingkungan PERSIS, kami memiliki kekayaan tarbiyah yang khas—rasionalitas yang berbasis dalil, kritisisme yang santun, komitmen pada akidah yang kokoh. Tetapi mengangkat ini menjadi rumusan kompetensi lulusan yang spesifik masih menjadi pekerjaan rumah. Tahun ini kami ingin lebih sistematis.

Ketiga, kepemimpinan pemikiran. Bukan sekadar mencetak guru MI yang baik, tetapi juga ikut memberi warna pada wacana pendidikan dasar Islam nasional. Tulisan-tulisan, riset, forum dialog, kerja sama dengan asosiasi PGMI—semua ini perlu dikelola secara lebih strategis.

Keempat, advokasi kesejahteraan guru madrasah. Masih banyak alumni kami—dan ribuan guru MI di pelosok Garut—yang menjalankan profesinya dengan kondisi yang jauh dari ideal: mengajar dengan honor minim, tanpa kepastian status, dengan beban administrasi yang berat. Kami tidak bisa diam.

Kelima, penguatan riset terapan. Riset yang baik tidak hanya menjadi dokumen di jurnal, tetapi juga menjadi dasar perbaikan praktik di lapangan. Tahun ini kami ingin lebih banyak menghasilkan riset yang langsung berdampak pada cara MI mitra mengelola pembelajaran dan asesmen.

Tradisi PERSIS yang sejak awal abad ke-20 menempatkan amar ma'ruf nahi munkar sebagai bagian integral dari pendidikan memberi pijakan. Mendidik bukan sekadar mengajar; ia juga adalah berkontribusi pada perbaikan kondisi pendidikan secara umum.

Selamat memasuki 2026. Mari kita jalani tahun ini dengan kepala yang tegak, hati yang bersih, dan komitmen pada anak-anak MI di Garut yang setiap hari datang ke madrasah dengan harapan yang sederhana: menemukan guru yang sungguh-sungguh peduli.

Komentar