Home Hari Guru PGMI Profesionalitas Reformasi Hari Guru 2025: Profesionalitas di Era Reformasi

Hari Guru 2025: Profesionalitas di Era Reformasi


25 November 2025, Hari Guru Nasional. Tahun ini sudah satu tahun pemerintahan baru berjalan. Banyak yang sudah berubah, banyak yang masih tetap. Bagi PGMI IAI PERSIS Garut, Hari Guru menjadi saat tepat untuk membaca makna profesionalitas guru di tengah reformasi yang masih bergulir.

Beberapa perubahan yang menyentuh profesi guru selama setahun ini patut dicatat. Pertama, percepatan pengangkatan PPPK untuk guru—termasuk guru madrasah—sudah mulai menunjukkan hasil meskipun belum semua kebutuhan terpenuhi. Beberapa alumni PGMI kami sudah berhasil masuk sebagai PPPK Kemenag, sebuah kabar yang patut disyukuri.

Kedua, penataan tunjangan profesi guru mulai diumumkan. Ini adalah angka yang sangat ditunggu—terutama oleh guru-guru madrasah yang selama ini tertinggal. Realisasinya masih perlu dipantau, tetapi arah kebijakan terlihat menjanjikan.

Ketiga, sertifikasi guru lewat PPG Daljab terus berjalan dan mulai menjangkau lebih banyak guru madrasah honorer yang sebelumnya sulit mengakses program ini. Bagi mereka yang sudah lama mengabdi tanpa sertifikat profesional, ini adalah kesempatan emas.

Tetapi reformasi sistem tidak otomatis berubah menjadi peningkatan profesionalitas. Profesionalitas adalah sesuatu yang harus tumbuh dari dalam—dari komitmen guru itu sendiri terhadap mutu pekerjaannya. Sertifikat bisa diberikan, tunjangan bisa dinaikkan, status bisa diubah. Tetapi profesionalitas yang sejati tidak bisa diberikan dari luar.

Apa yang membedakan guru yang profesional dari guru yang sekadar punya sertifikat profesional?

Pertama, terus belajar. Guru profesional tidak berhenti belajar setelah lulus PPG. Mereka membaca, menghadiri pelatihan, ikut komunitas praktisi, dan secara sadar mengembangkan kapasitas diri. Tradisi PERSIS yang menekankan menuntut ilmu sepanjang hayat memberi landasan untuk komitmen ini.

Kedua, refleksi yang jujur. Guru profesional secara berkala bertanya pada diri sendiri: apakah pembelajaran saya minggu ini benar-benar berdampak? Apa yang berhasil? Apa yang gagal? Refleksi seperti ini menuntut keberanian untuk melihat kelemahan sendiri.

Ketiga, integritas. Guru profesional tidak hanya mengajar yang benar, tetapi juga melakukan yang benar. Tidak menyalin nilai dari komputer tetangga, tidak memanipulasi data laporan, tidak menerima gratifikasi yang tidak pantas. Integritas inilah yang sering kali paling sulit dijaga di tengah tekanan.

Keempat, kepekaan sosial. Guru profesional tidak sekadar peduli pada angka rapor, tetapi juga pada kondisi siswa. Pada anak yang lapar, pada anak yang trauma, pada anak yang sedang berjuang dengan keluarga yang berantakan. Kepekaan ini adalah dimensi profesionalitas yang sering luput.

Bagi calon guru MI yang sedang menempuh studi di PGMI IAI PERSIS Garut: ingatlah bahwa sertifikat dan tunjangan adalah hadiah dari sistem. Tetapi profesionalitas adalah hadiah yang Anda berikan kepada diri sendiri dan kepada anak-anak yang akan Anda didik. Tidak ada institusi yang bisa memberikan profesionalitas itu kepada Anda; ia harus Anda tumbuhkan sendiri, hari demi hari, kelas demi kelas.

Selamat Hari Guru Nasional 2025. Untuk semua guru MI di Garut—terima kasih atas konsistensi dan dedikasi kalian. Untuk semua calon guru di PGMI IAI PERSIS Garut—siapkan diri kalian dengan serius. Anak-anak menanti.

Komentar