Hari Santri 2024: Santri di Tengah Polarisasi Sosial
22 Oktober 2024, Hari Santri Nasional kembali kita peringati. Tahun ini, peringatan datang dalam suasana pasca-pemilu—suasana yang masih menyimpan jejak polarisasi sosial yang cukup mendalam di kalangan masyarakat. Pertanyaan reflektif untuk PGMI IAI PERSIS Garut: bagaimana santri seharusnya bersikap di tengah polarisasi yang sering kali memecah belah masyarakat Muslim Indonesia?
Sejarah mengingatkan kita bahwa santri Indonesia selalu memiliki posisi yang khas. Sejak Resolusi Jihad 1945 hingga gerakan keagamaan kontemporer, santri tidak pernah absen dari dinamika kebangsaan—tetapi juga tidak pernah menjadi tawanan dari faksi politik mana pun. Ada elastisitas politis yang khas santri: dekat dengan rakyat, kritis terhadap penguasa, dan setia pada nilai-nilai keislaman.
Tetapi era media sosial mengubah lanskap ini. Hari ini, polarisasi sosial sering kali dipicu—dan diperparah—oleh narasi-narasi pendek yang viral di Instagram, TikTok, atau X (Twitter). Ulama-ulama tertentu menjadi selebriti dengan jutaan pengikut, kadang dengan retorika yang membakar. Santri muda banyak yang terjebak dalam pemujaan figur, alih-alih pencarian ilmu.
Apa yang bisa dilakukan madrasah dan PGMI di tengah situasi ini? Beberapa hal kami pegang.
Pertama, kembalikan adab pada ilmu sebagai inti tradisi santri. Adab artinya, antara lain, tidak terlalu cepat menghakimi orang lain, tidak fanatik pada satu sumber, dan sabar dalam memahami persoalan. Anak-anak MI yang sejak dini dibiasakan dengan adab ini akan lebih kebal terhadap polarisasi di kemudian hari.
Kedua, perkenalkan keragaman tradisi keislaman Indonesia secara dewasa. Indonesia adalah rumah bagi NU, Muhammadiyah, PERSIS, Al-Washliyah, dan banyak organisasi keagamaan lainnya. Masing-masing punya kekhasan, tetapi semuanya beriman pada Allah, mencintai Rasulullah, dan berkomitmen pada NKRI. Anak-anak MI perlu tumbuh dengan pemahaman bahwa perbedaan ijtihad tidak berarti permusuhan akidah.
Ketiga, beri ruang untuk diskusi yang aman di kelas. Anak MI sering kali sudah membawa narasi keluarga atau media sosial ke kelas. Tugas guru bukan menyensor, melainkan mendengarkan, mengarahkan, dan—kalau perlu—mengoreksi dengan santun. Diskusi yang aman mengajarkan mereka bahwa beda pendapat itu boleh.
Keempat, tanamkan rasa cinta tanah air yang kokoh tetapi tidak chauvinis. Indonesia adalah amanah bersama. Polarisasi sosial yang berlebihan merugikan kita semua, terutama generasi muda yang menyaksikan orang tua mereka bertengkar di grup WhatsApp.
Tradisi PERSIS yang menekankan rasionalitas, kritisisme yang berdalil, dan ukhuwah islamiyah memberi kerangka yang berharga. Berbeda boleh, tetapi tidak boleh saling membenci. Berijtihad boleh, tetapi tidak boleh saling mengkafirkan. Selamat Hari Santri Nasional 2024. Semoga santri-santri kecil di MI Garut menjadi penjaga perdamaian Indonesia, bukan pemain polarisasi.

Komentar
Posting Komentar