Home IKM Kurikulum Merdeka PGMI Tahun Ajaran Baru Tahun Ajaran 2023/2024: Kurikulum Merdeka Meluas, Tantangan Berlipat

Tahun Ajaran 2023/2024: Kurikulum Merdeka Meluas, Tantangan Berlipat



Juli 2023, tahun ajaran baru 2023/2024 resmi dimulai. Yang membedakan tahun ini adalah peluasan implementasi Kurikulum Merdeka di Madrasah Ibtidaiyah. Jika tahun lalu hanya sebagian MI yang ikut sebagai pelaksana awal, tahun ini hampir semua MI didorong untuk masuk—setidaknya melalui jalur Implementasi Kurikulum Merdeka (IKM) mandiri belajar. Bagi PGMI IAI PERSIS Garut, peluasan ini sekaligus pekerjaan rumah yang berlipat.

Sebagai pelaksana awal, MI yang sudah satu tahun bergulat dengan Kurikulum Merdeka kini diharapkan menjadi referensi bagi MI-MI lain yang baru memulai. Tetapi pengalaman satu tahun belum tentu cukup untuk menjadi "guru bagi guru lain". Sebab pelaksana awal sendiri masih banyak yang merasa berjalan dalam kabut—mencoba, gagal, mencoba lagi.

Tahun ini, beberapa tantangan baru muncul. Pertama, soal kelas yang menerima Kurikulum Merdeka semakin banyak. Tahun lalu mungkin baru kelas 1 dan 4 di MI; tahun ini bisa kelas 1, 2, 4, dan 5. Guru harus menguasai lebih banyak Capaian Pembelajaran (CP) di tingkatan yang berbeda. Kedua, evaluasi tahun pertama menunjukkan bahwa beberapa elemen kurikulum perlu disesuaikan dengan konteks madrasah—misalnya integrasi yang lebih kuat dengan mata pelajaran agama dan Bahasa Arab.

Ketiga, beban administrasi tetap menjadi keluhan utama. Banyak guru MI yang merasa Kurikulum Merdeka justru menambah pekerjaan dokumen: modul ajar, jurnal P5-PPRA, asesmen formatif, asesmen sumatif, laporan refleksi. Idealnya, dokumen-dokumen ini menjadi alat refleksi, bukan beban tambahan. Tetapi tanpa pendampingan yang baik, idealitas itu sulit terwujud.

PGMI IAI PERSIS Garut merespons peluasan ini dengan beberapa langkah. Pertama, kami meningkatkan kerja sama dengan Kementerian Agama Kabupaten Garut untuk menyelenggarakan workshop berkala bagi guru MI mitra. Kedua, kami mendorong mahasiswa untuk turun langsung ke MI-MI di sekitar kampus sebagai tim pendamping mini—membantu guru menyusun modul ajar, melakukan refleksi pembelajaran, atau sekadar berbagi sumber-sumber yang relevan. Ketiga, kami memperkaya mata kuliah kurikulum dengan studi kasus konkret dari MI mitra.

Kami menyadari bahwa keberhasilan Kurikulum Merdeka di madrasah tidak akan dicapai oleh upaya satu pihak. Pemerintah, kampus, MI, orang tua, dan masyarakat harus bergerak bersama. Yang penting, jangan sampai Kurikulum Merdeka berakhir seperti kurikulum-kurikulum sebelumnya—berubah nama setelah lima atau enam tahun, tanpa benar-benar mengubah cara kita memandang anak.

Selamat memasuki tahun ajaran baru. Semoga tahun ini membawa lebih banyak guru MI yang merasa berdaya, bukan kewalahan.

Komentar