Home Hari Santri Madrasah PERSIS PGMI Hari Santri 2022: Madrasah Ibtidaiyah sebagai Pintu Pertama Tradisi Santri

Hari Santri 2022: Madrasah Ibtidaiyah sebagai Pintu Pertama Tradisi Santri



Setiap tanggal 22 Oktober, kita memperingati Hari Santri Nasional. Tahun 2022, peringatan ini berlangsung dalam suasana yang lebih lapang—pesantren dan madrasah kembali ramai pasca-pandemi, kegiatan keagamaan kembali bergairah, dan diskursus tentang peran santri dalam kehidupan kebangsaan kembali mendapat panggung. Bagi Program Studi PGMI IAI PERSIS Garut, Hari Santri adalah saat tepat untuk meneguhkan ulang posisi MI sebagai pintu pertama tradisi santri.

Sering kali kita lupa: bagi banyak anak Indonesia, MI adalah pengalaman pertama mereka berinteraksi dengan tradisi keilmuan Islam secara terstruktur. Di MI mereka pertama kali belajar membaca Al-Qur'an dengan bimbingan formal, pertama kali memahami rukun iman dan rukun Islam dengan kerangka kurikuler, pertama kali merasakan kebersamaan dengan teman-teman sesama Muslim dalam lingkungan pendidikan. Pengalaman ini menjadi fondasi sebelum mereka—jika berlanjut—masuk ke pesantren, MTs, atau lembaga lanjutan.

Di sini letak tanggung jawab besar guru MI. Mereka adalah pelopor pertama yang memperkenalkan adab santri: hormat pada guru, sungguh-sungguh dalam belajar, sabar dalam menerima ilmu, dan ikhlas dalam menjalankannya. Adab ini tidak diajarkan lewat kuliah panjang, melainkan lewat keteladanan harian: cara guru menyapa, cara guru memegang Al-Qur'an, cara guru berinteraksi dengan rekan sejawat.

PERSIS sebagai organisasi memiliki tradisi yang khas dalam pendidikan. Sejak awal abad ke-20, A. Hassan dan tokoh-tokoh PERSIS lainnya menekankan rasionalitas dalam beragama, kritisisme terhadap tradisi yang tidak berdalil, dan komitmen pada Al-Qur'an dan Sunnah sebagai sumber utama. Karakter ini perlu diwariskan kepada generasi santri MI hari ini—bahwa menjadi santri tidak berarti taklid buta, melainkan belajar dengan akal yang terbuka dan hati yang tunduk pada nash.

Hari Santri juga mengingatkan kita pada Resolusi Jihad 22 Oktober 1945. Para santri tidak pernah absen dari panggilan kebangsaan. Hari ini, panggilan itu mengambil bentuk yang berbeda: panggilan untuk membangun pendidikan yang bermutu, melawan ketidakadilan dengan cara yang santun, dan menjaga keutuhan NKRI di tengah berbagai polarisasi sosial. Santri MI hari ini adalah pemimpin masyarakat 20-30 tahun yang akan datang.

Kepada mahasiswa PGMI, kami berpesan: ketika kelak kalian berdiri di depan kelas MI, ingatlah bahwa di hadapan kalian duduk para santri kecil yang sedang menyerap dunia. Apa yang kalian tanamkan hari ini akan tumbuh dalam diri mereka—untuk baik atau untuk buruk. Selamat Hari Santri Nasional 2022.

Komentar