Microteaching dan PPL Pasca-Pandemi: Belajar Lagi Berdiri di Depan Kelas
Pengalaman microteaching tatap muka pasca-pandemi membawa pelajaran tersendiri. Banyak mahasiswa kami terlihat lebih fasih merancang slide presentasi, lebih piawai menggunakan platform interaktif, tetapi—jujur saja—lebih canggung berdiri di depan kelas, mengatur volume suara, dan membaca raut wajah teman sejawat. Pandemi telah mengasah keterampilan digital, tetapi sedikit menumpulkan keterampilan presensi fisik.
Refleksi ini penting bagi kami sebagai pengelola prodi. Microteaching bukan sekadar uji kemampuan menyampaikan materi, melainkan latihan kehadiran utuh seorang calon guru: bagaimana ia berdiri, bagaimana ia berjalan di antara meja siswa, bagaimana ia menanggapi siswa yang melamun atau bertanya di luar topik. Kompetensi ini tidak bisa dibangun lewat layar.
PPL kali ini juga berlangsung dalam suasana yang khas. MI mitra di Garut menerima mahasiswa dengan ekspektasi yang cukup tinggi: mereka berharap mahasiswa PGMI membawa angin segar, ide pembelajaran kreatif pasca-pandemi, dan kemampuan teknologi yang bisa menularkan keterampilan baru kepada para guru senior. Di sisi lain, mahasiswa juga harus belajar rendah hati—bahwa pengalaman guru di lapangan, terutama dalam menangani kelas multi-tingkat dan anak dengan latar belakang beragam, tidak bisa diabaikan begitu saja.
Kami menekankan kepada mahasiswa beberapa hal sebelum PPL. Pertama, datanglah sebagai pembelajar, bukan sebagai pakar. Kedua, hormati guru pamong sebagai sumber pengetahuan praktis paling otentik. Ketiga, jaga akhlak dengan kepala madrasah, siswa, dan orang tua siswa. Keempat, dokumentasikan refleksi harian—bukan untuk laporan saja, melainkan untuk diri sendiri.
Microteaching dan PPL adalah ritus peralihan: dari mahasiswa menjadi calon guru sungguhan. Di MI mitra-lah teori-teori yang dipelajari di kelas akan diuji, dihancurkan, lalu dibangun kembali dengan lebih realistis. Tidak jarang mahasiswa kami pulang PPL dengan pandangan yang berubah tentang profesi guru—lebih realistis, kadang lebih sederhana, tetapi justru lebih dalam.
Semoga PPL tahun ini membawa mahasiswa kami pulang sebagai calon guru MI yang lebih siap, lebih rendah hati, dan lebih cinta pada profesinya.

Komentar
Posting Komentar