Lelah yang Tak Terlihat: Ketahanan Mental Guru MI di Tengah Beban Administrasi

Guru bersama murid di ruang kelas. Foto: Dicky Herlambang via Wikimedia Commons, lisensi CC0 (domain publik).
Pembuka
Pukul tujuh pagi ia sudah berdiri di depan kelas. Pukul empat sore ia baru beranjak pulang. Malam harinya, di rumah, laptopnya masih menyala. Yang dibukanya bukan materi pelajaran, melainkan laporan.
Kisah semacam ini bukan rahasia di lingkungan Madrasah Ibtidaiyah. Ia adalah keseharian. Pekerjaan guru MI tidak berhenti di ruang kelas. Ia merancang perangkat pembelajaran, menginput data ke EMIS dan SIMPATIKA, mengejar pemberkasan tunjangan, melayani orang tua murid, dan sesekali menjadi petugas administrasi karena tenaga kependidikan terbatas.
Penelitian terbaru menyebut guru menghabiskan 30 sampai 50 persen jam kerjanya untuk tugas non-pedagogis, dengan tingkat burnout mencapai 65 persen. Angka itu patut kita renungkan serius. Artinya, dari tiga guru madrasah yang kita temui, dua di antaranya kelelahan secara mental. Padahal guru yang lelah tidak bisa menumbuhkan anak yang bersemangat.
Publik sudah sering membicarakan kesejahteraan guru. Tapi kesehatan mental guru hampir tidak pernah dibicarakan. Padahal keduanya saling menempel. Guru yang gajinya pas-pasan dan lelah jiwa akan sulit menghadirkan pembelajaran yang bermakna untuk anak usia dasar.
Berkas yang Lebih Panjang dari Hari
Kementerian Agama baru saja menerbitkan KMA Nomor 736 Tahun 2026 tentang pedoman pemenuhan beban kerja guru madrasah bersertifikat, menggantikan aturan lama KMA 890 Tahun 2019. Aturannya jelas: guru madrasah wajib melaksanakan beban kerja 37 jam 30 menit per minggu, dengan minimal 24 jam tatap muka. Sisanya dialokasikan untuk perencanaan, penilaian, pembimbingan, dan tugas tambahan.
Di atas kertas, rincian itu rapi. Di lapangan, ceritanya lain. Bagi guru MI swasta yang serba kekurangan, batas antara tugas mengajar dan tugas administrasi hampir tidak ada. Sore hari yang seharusnya dipakai menyusun strategi pembelajaran justru habis untuk mengejar tenggat input data dan pemberkasan. Pagi harinya ia mengajar dengan kepala yang sudah penuh oleh urusan kemarin.
Administrasi memang penting. Data yang tertib menopang kebijakan yang tepat. Masalahnya, beban administrasi terus bertambah tanpa disertai penyederhanaan kerja atau penambahan personel. Guru diperlakukan seperti pegawai kantor yang kebetulan mengajar, bukan pengajar yang dibantu administrasi.
Kami di PGMI IAI PERSIS Garut mendidik calon guru MI. Kami selalu menekankan: kualitas pembelajaran ditentukan oleh seberapa banyak waktu dan energi yang benar-benar tersedia untuk anak. Setiap jam yang diambil berkas dari tangan guru adalah jam yang hilang dari murid.
Dituntut Profesional, Haknya Tersendat
Kelelahan guru MI tidak hanya soal banyaknya pekerjaan. Ia juga soal rasa dihargai.
Awal 2026 lalu, pencairan tunjangan profesi guru madrasah 2025 sempat tertunda. Yang menyakitkan, syarat administrasi tetap berjalan penuh. Guru diperintah mengebut penyesuaian data lewat EMIS GTK dan SIMPATIKA, mengurus status aktif, mutasi, pengajuan NRG, hingga input beban kerja. Kewajiban jalan, hak berhenti. Situasi seperti ini menggerus semangat lebih cepat daripada tumpukan berkas.
Masih ada guru honorer yang menerima gaji sekitar Rp125 ribu sampai Rp130 ribu per bulan. Ada sekitar 2,3 juta guru non-ASN yang mengajar di sekolah dan madrasah, tulang punggung pendidikan nasional yang hidup dalam ketidakpastian status. Sulit meminta seseorang menjadi teladan yang utuh ketika negara belum hadir memastikan kelangsungan hidupnya.
Ketahanan mental tidak tumbuh di ruang hampa. Ia tumbuh di lingkungan yang adil. Guru yang merasa diperlakukan adil akan lebih kuat menanggung lelah. Guru yang merasa dipermainkan akan runtuh oleh beban yang sebenarnya ringan.
Madrasah Perlu Ruang Napas
Lalu apa yang bisa kita perbuat? Tiga langkah mendesak menurut kami.
Pertama, pangkas dan integrasikan beban administrasi. Sistem pelaporan yang tumpang tindih antara satu aplikasi dan aplikasi lain harus disederhanakan. Satu kali input, dipakai untuk banyak keperluan. Jangan biarkan guru mengisi data yang sama di tiga tempat berbeda.
Kedua, kepala madrasah perlu membuka ruang bicara yang aman. Guru butuh tempat mengeluh tanpa takut dicap tidak ikhlas. Kelelahan yang diungkapkan sejak dini lebih mudah ditangani daripada yang dipendam sampai meledak. Madrasah yang sehat bukan madrasah yang gurunya tidak pernah mengeluh, melainkan yang tahu kapan gurunya butuh istirahat.
Ketiga, lembaga pendidikan guru seperti PGMI wajib membekali calon guru dengan daya tahan mental, bukan sekadar keterampilan teknis mengajar. Mahasiswa kami perlu tahu bahwa mengajar di MI tidak selesai dengan menguasai metode dan media. Ia juga soal mengelola lelah, mengatur batas antara kerja dan hidup, dan berani bersuara ketika beban sudah tidak wajar. Guru yang sejak awal dilatih menjaga dirinya akan lebih lama bertahan di ruang kelas.
Penutup
Anak-anak MI sedang berada di usia emas pembentukannya. Mereka membutuhkan guru yang hadir sepenuh jiwa. Bukan guru yang badannya di kelas tapi kepalanya tertinggal di tumpukan berkas. Guru yang waras jiwanya melahirkan anak yang berani bermimpi. Guru yang runtuh diam-diam menularkan keletihan yang tak terlihat.
Rancage ku pikiran, parigel ku tindakan. Pikiran yang rancage milik guru yang punya ruang untuk berpikir jernih. Tindakan yang parigel milik sistem yang berani meringankan, bukan menambah. Selama madrasah masih memaksa gurunya memilih antara melengkapi berkas dan merawat kewarasannya, kita tidak boleh heran kalau kualitas pendidikan dasar Islam jalan di tempat.
Mari mulai dari yang paling sederhana: akui bahwa guru kita lelah. Dari pengakuan itu, perubahan bisa dimulai.
Komentar
Posting Komentar