Hari Santri 2026: Madrasah, Jangan Cuma Jadi Penonton
![]()
Apel peringatan Hari Santri. Foto: Farzanesfandiar via Wikimedia Commons, lisensi CC BY-SA 4.0.
Pembuka
Logo dan tema Hari Santri 2026 sudah resmi diluncurkan Kementerian Agama, Selasa 22 September lalu. Temanya gagah: "Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas". Puncak peringatan digelar 24 Oktober di Istora Senayan, didahului rangkaian acara dari Surat Santri untuk Presiden hingga Expo Kemandirian Pesantren. Negara bahkan membentuk Direktorat Jenderal Pesantren.
Ini kabar baik. Tapi kami di PGMI IAI PERSIS Garut menyimpan satu pertanyaan yang mengganjal: di mana madrasah dalam perayaan ini?
Madrasah adalah saudara kandung pesantren. Namun di lapangan, madrasah kerap diposisikan sebagai pelengkap, bukan subjek. Padahal Madrasah Ibtidaiyah adalah ruang tempat nilai-nilai kesantrian dibumikan paling awal, kepada anak-anak usia dasar.
Santri dan Murid Madrasah: Satu Akar, Dua Nasib
Santri dan murid madrasah lahir dari rahim yang sama: halaqah, kitab kuning, adab. Resolusi Jihad 22 Oktober 1945 tidak mengenal dikotomi pesantren dan madrasah. Yang ada hanya ulama dan murid-muridnya yang bergerak mempertahankan kemerdekaan.
Delapan puluh satu tahun kemudian, nasib keduanya berbeda. Pesantren diperkuat lewat direktorat jenderal. Guru madrasah swasta? Awal September lalu, puluhan ribu guru inpassing menulis surat terbuka kepada Presiden. Isinya penolakan: mereka tidak mau skema insentif dijadikan pengganti pengangkatan P3K. Bayangkan, mengabdi 20 sampai 30 tahun dengan penghasilan di bawah UMR, lalu ditawari uang saku sebagai solusi.
Jadi ketika tema tahun ini berkata santri menguatkan negeri, wajar kalau kita balik bertanya: kapan negeri menguatkan mereka yang mengabdi sebagai guru madrasah di pelosok desa?
Nilai Kesantrian yang Perlu Dibawa ke Ruang Kelas MI
Terlepas dari soal kebijakan, ada hal yang bisa dipetik madrasah dari Hari Santri selain upacara bendera dan spanduk.
Pesantren menyimpan warisan pedagogis yang justru dicari-cari pendidikan modern: murid yang mandiri, tekun bertahun-tahun, adab sebelum ilmu, dan berani bersuara untuk kepentingan bangsa. Buktinya ada di agenda tahun ini juga. Surat Santri untuk Presiden memberi ruang bagi santri menyampaikan mimpi dan gagasannya langsung kepada kepala negara. Keberanian seperti itu dilatih, bukan bakat bawaan.
Bagi calon guru MI yang kami didik di PGMI, ini modal yang tak ternilai. Kurikulum Merdeka menuntut pembelajaran berpusat pada murid dan bermakna. Tradisi kesantrian bisa menjadi jawabannya, bukan beban masa lalu. Guru MI yang berjiwa santri tidak sekadar mentransfer materi. Ia membentuk karakter anak sejak dini.
Dari Peringatan Menjadi Kebijakan
Refleksi saja tidak cukup. Tanpa kebijakan, Hari Santri berhenti sebagai seremoni tahunan.
Tiga hal mendesak diperjuangkan bersama momentum ini. Pertama, status dan kesejahteraan guru madrasah, terutama yang swasta. Merekalah penanggung beban terbesar pendidikan dasar Islam. Kedua, nilai-nilai kesantrian masuk ke kurikulum dan pembinaan guru secara sungguh-sungguh, bukan tempelan slogan. Ketiga, perhatian yang proporsional bagi MI sebagai jenjang fondasi. Pesantren bisa hebat karena MI yang baik menyiapkan santrinya sejak awal.
Kebijakan pendidikan gratis yang ditegaskan Menteri Agama berlaku untuk madrasah negeri. Itu kemajuan. Tapi mayoritas madrasah adalah swasta, dan di sanalah perjuangan sesungguhnya berada.
Penutup
"Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas". Tema yang gagah. Tapi negeri tidak dibangun oleh slogan. Ia dibangun oleh guru yang disejahterakan, madrasah yang dimuliakan, dan anak-anak yang dididik dengan adab dan ilmu sejak usia dini.
Hari Santri 2026 memberi kita panggung. Pertanyaannya sederhana: apakah madrasah akan naik ke panggung itu sebagai subjek, atau tetap duduk di kursi penonton sambil bertepuk tangan untuk kemeriahan orang lain?
Rancage ku pikiran, parigel ku tindakan. Kalau pikiran sudah rancage, tindakannya jangan setengah-setengah. Madrasah perlu berani menuntut tempatnya, bukan dengan keluhan, melainkan dengan karya. Santri tidak ditakdirkan jadi penonton.
Komentar
Posting Komentar