Seminar Ekoteologi 2026: IAI PERSIS Garut Serukan Pendidikan yang Peduli Ilmu dan Alam
Rancage ku Pikiran, Parigel ku Tindakan
RUBRIK PENDIDIKAN & KAMPUS • Garut, Senin 6 Juli 2026
GARUT, RANCAGE PARIGEL TIMES — Pendidikan tak cukup sekadar mencerdaskan; ia juga harus menumbuhkan kepedulian pada alam. Pesan itu menggema dalam Seminar Ekoteologi dalam Pendidikan dan Pengabdian kepada Masyarakat PGMI–PAI 2026, yang digelar Program Studi PAI dan PGMI di bawah Fakultas Tarbiyah dan Keguruan IAI PERSIS Garut di Gedung Pemuda Garut, Senin (6/7). Mengusung tema “Mengajar dengan Hati, Berkarya dengan Aksi”, seminar ini memadukan nilai keislaman, kepedulian lingkungan, dan inovasi pendidikan dalam satu panggung.
Acara dibuka resmi oleh Wakil Rektor I Bidang Akademik, Dr. Daris Tamin, M.Pd. Diawali pembacaan ayat suci Al-Qur’an dan menyanyikan Indonesia Raya, Mars Persis, serta Mars IAI PERSIS Garut, suasana khidmat terasa sejak menit pertama. Dalam sambutannya, Ketua Prodi PGMI Nuraeni Sugih Pramukti, M.Pd. dan Ketua Prodi PAI Leni Layyinah, M.Pd. sepakat: dunia pendidikan hari ini menuntut pendekatan yang adaptif, humanis, sekaligus ramah lingkungan.
Orasi Kunci
Tampil sebagai keynote speaker, Rektor IAI PERSIS Garut Dr. Tiar Anwar Bachtiar, S.S., M.Hum. mengingatkan bahwa tugas pendidikan tak berhenti pada transfer ilmu.
“Pendidikan juga harus membangun kesadaran ekologis yang berakar pada nilai-nilai Islam, sehingga lahir generasi yang bertanggung jawab terhadap kelestarian alam dan kemaslahatan masyarakat,” tegasnya.
Dua Pakar, Satu Meja
Sesi inti menghadirkan dua narasumber: Prof. Dr. Jajang A. Rohmana, M.Ag. (Rektor IAI PERSIS Bandung) dan Dr. Agus Fakhruddin, S.Pd., M.Pd. (Sekretaris Prodi PAI UPI). Diskusi dipandu Wakil Rektor III IAI PERSIS Garut, Heri Mohamad Tahari, S.HI., M.Pd.
Di hadapan peserta, keduanya membedah cara menerjemahkan ekoteologi ke ruang kelas dan program pengabdian masyarakat. Mereka juga menawarkan strategi membangun budaya akademik yang tanggap terhadap isu lingkungan — dari kampus hingga masyarakat sekitar.
Bukan Seminar Biasa
Seminar ini menolak kesan kaku. Panitia meracik acara dengan grand opening senam fantasi, story telling, podcast pendidikan, mengkisah, hingga sharing discussion yang mengajak peserta ikut bicara. Yang paling mengharukan, tarian dari anak-anak SLB tampil memukau — penegasan bahwa pendidikan adalah ruang bagi semua.
Karya yang Bicara
Sebagai penutup rangkaian, mahasiswa PGMI memamerkan media pembelajaran, poster edukatif, dan beragam inovasi belajar. Deretan karya itu menjadi bukti bahwa gagasan di ruang seminar benar-benar berbuah produk yang siap dipakai di kelas.
Lewat kolaborasi dua program studi ini, IAI PERSIS Garut menegaskan posisinya sebagai pencetak pendidik yang profesional, inovatif, dan berkarakter Islami — siap berkontribusi bagi masyarakat dan keberlanjutan lingkungan.
Komitmen Berlanjut
Menutup acara, Dekan Fakultas Tarbiyah dan Keguruan IAI PERSIS Garut, Riyan Nuryadin, M.Pd., menyebut keberhasilan seminar sebagai bukti komitmen fakultas menghadirkan pendidikan tinggi yang unggul secara akademik sekaligus peka pada persoalan sosial dan lingkungan.
Ditulis ku Redaksi Rancage Parigel Times — Garut
Rancage Parigel Times — sasarengan ngipuk élmu jeung talénta.
Komentar
Posting Komentar