Wacana Coding dan AI di MI: Apakah Sudah Saatnya?
April 2025 mewarnai diskursus pendidikan dengan satu wacana yang cukup ramai: Coding dan Kecerdasan Buatan sebagai mata pelajaran pilihan untuk siswa sekolah dasar dan menengah. Wacana ini dilontarkan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah dan langsung memantik diskusi—termasuk di kalangan madrasah. Bagi PGMI IAI PERSIS Garut, ini adalah saat untuk memberi tanggapan yang seimbang.
Pertanyaan pertama: apakah sudah saatnya MI mengajarkan coding dan AI? Jawaban kami: tergantung. Tergantung pada bagaimana definisi "coding dan AI" itu sendiri. Tergantung pada bagaimana implementasinya. Dan tergantung pada apakah hal-hal mendasar yang harus dikuasai siswa MI sudah benar-benar tercapai.
Mari kita mulai dari sisi positifnya. Memperkenalkan logika komputasional sejak dini—bagaimana memecah masalah menjadi langkah-langkah, bagaimana berpikir sistematis, bagaimana mengenali pola—adalah keterampilan berharga yang relevan dengan tuntutan masa depan. Anak-anak MI yang dibimbing dengan baik bisa mempelajari konsep dasar ini melalui permainan, kegiatan tanpa layar (unplugged), atau alat-alat visual yang ramah anak seperti Scratch Junior.
Namun ada sisi yang harus diwaspadai. Pertama, dalam realitas banyak MI di pedesaan Garut, masalah dasarnya bukan ketiadaan coding, melainkan ketiadaan buku pelajaran yang memadai, ruang kelas yang layak, dan akses internet yang stabil. Menempatkan coding sebagai prioritas tanpa terlebih dahulu memenuhi kebutuhan dasar ini berisiko menjadi gimmick kebijakan, bukan transformasi pendidikan.
Kedua, mengajarkan coding membutuhkan guru yang kompeten. Banyak guru MI yang sendiri belum akrab dengan logika komputasional. Tanpa pelatihan yang serius dan berkelanjutan, mata pelajaran coding hanya akan menjadi formalitas—dengan guru yang membaca slide tanpa memahami, dan siswa yang mengikuti tanpa mendapat pemahaman bermakna.
Ketiga, AI untuk siswa MI harus dipikirkan secara hati-hati. Memperkenalkan konsep AI sebagai literasi adalah satu hal; menjadikan AI sebagai pengajar atau pendamping belajar adalah hal yang lain. Anak MI yang masih membangun kepercayaan dasar pada otoritas pengetahuan, terutama otoritas guru, perlu dilindungi dari ketergantungan prematur pada mesin.
Keempat, kekhasan madrasah harus dijaga. Coding dan AI tidak boleh menggusur waktu untuk pembelajaran Al-Qur'an, tilawah, hafalan surat pendek, dan praktik ibadah. Identitas madrasah sebagai pendidikan dasar Islam adalah hal yang membedakannya dari SD umum, dan ini tidak boleh ditawar.
PGMI IAI PERSIS Garut sendiri mulai memikirkan langkah konkret. Beberapa mata kuliah pengantar literasi digital sudah masuk kurikulum prodi. Workshop dasar logika komputasional untuk mahasiswa direncanakan. Tetapi kami tidak akan terburu-buru menambahkan coding sebagai topik wajib di microteaching, sebelum kami yakin bahwa landasan teoretisnya kuat dan implementasinya benar-benar berpihak pada anak MI.
Tradisi PERSIS yang menekankan menerima ilmu yang bermanfaat dari mana pun datangnya, sambil menolak yang merusak, memberi kerangka yang baik. Coding dan AI bisa menjadi ilmu yang bermanfaat—jika dikelola dengan kepala dingin. Tetapi keduanya juga bisa menjadi gangguan, bila dipaksakan tanpa kesiapan.

Komentar
Posting Komentar