Hardiknas 2024: Antara Capaian dan Pekerjaan Rumah
2 Mei 2024, peringatan Hari Pendidikan Nasional kembali kita rayakan. Tahun ini, peringatan terasa istimewa karena bertepatan dengan tahun pertama setelah pesta demokrasi Februari lalu. Banyak harapan, juga banyak kekhawatiran, mengenai arah kebijakan pendidikan ke depan. Bagi PGMI IAI PERSIS Garut, Hardiknas menjadi momen untuk menimbang capaian, sambil mengidentifikasi pekerjaan rumah yang belum tersentuh.
Mari kita tengok beberapa capaian. Pertama, perubahan paradigma kurikulum—dari K-13 ke Kurikulum Merdeka—sudah berjalan tiga tahun. Banyak guru MI yang dulunya terjebak dalam pola hafalan kini mulai berlatih merancang pembelajaran yang lebih kontekstual. Modul ajar, P5-PPRA, dan asesmen formatif sudah menjadi bagian kosakata harian.
Kedua, akses pengembangan profesional guru madrasah membaik. PINTAR Kemenag, PPG Daljab, sertifikasi guru, hingga berbagai komunitas belajar mulai menjangkau lebih banyak guru. Kompetensi guru—setidaknya secara administratif—mengalami peningkatan.
Ketiga, ekosistem akreditasi dengan IASP 2020 mulai menumbuhkan budaya mutu di madrasah. Madrasah mulai sadar bahwa mutu bukan sekadar dokumen, tetapi praktik.
Tetapi pekerjaan rumah yang belum selesai juga banyak. Kesejahteraan guru madrasah masih jauh dari ideal. Banyak guru honorer MI di pelosok Garut yang masih menerima honor di bawah upah minimum, bahkan dengan ijazah sarjana. Pengangkatan PPPK Kemenag terus berjalan, tetapi kecepatannya belum mengejar kebutuhan.
Pekerjaan rumah lain: kesenjangan mutu antar-MI. Di kota, banyak MI yang sudah maju dengan fasilitas dan SDM yang baik. Di pelosok, banyak MI yang masih bergulat dengan masalah dasar—ruang kelas yang bocor, buku pelajaran yang minim, akses internet yang lemah. Kebijakan pendidikan harus lebih sensitif terhadap kesenjangan ini.
Selain itu, isu pendidikan inklusif masih jauh dari memadai. Banyak MI yang belum siap menerima siswa dengan kebutuhan khusus—tidak ada guru pendamping khusus, tidak ada modifikasi kurikulum, tidak ada ruang akomodatif. Padahal madrasah, sebagai lembaga yang berlandaskan rahmat, seharusnya menjadi pelopor inklusivitas.
PGMI IAI PERSIS Garut ingin berkomitmen pada beberapa hal di Hardiknas tahun ini. Pertama, terus mendorong mahasiswa untuk memiliki kepekaan terhadap pendidikan inklusif. Kedua, memperluas riset terapan yang mendokumentasikan praktik baik MI di pedesaan Garut. Ketiga, terus bersuara—lewat tulisan, forum, dan kerja sama—untuk advokasi kesejahteraan guru madrasah. Selamat Hari Pendidikan Nasional. Tugas kita belum selesai—dan mungkin tidak akan pernah selesai. Justru di sinilah letak indahnya panggilan menjadi pendidik.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/20240425_HARDIKNAS.jpg)
Komentar
Posting Komentar